Friday, October 12, 2012

SATELIT DALAM DUNIA METEOROLOGI DAN KLIMATOLOGI


Meteorologi dan klimatologi memerlukan data untuk membantu penelitian sehingga didapat hasil yang berguna seperti : prakiraan cuaca (forecast), informasi cuaca untuk khalayak umum, warning cuaca ekstrim, dan lain sebagainya. Dalam rangka memperoleh data, perlu dilakukan observasi atau pengamatan unsur-unsur meteorologi. Metode observasi dalam meteorologi dilakukan dalam dua metode yaitu metode langsung (in situ) dan metode tidak langsung (remote sensing). Pada metode langsung, pengamatan dilakukan di stasiun-stasiun synoptik, penerbangan, maupun maritim. Sedangkan pada metode tidak langsung (remote sensing) dilakukan menggunakan radar dan satelit.

Satelit meteorologi adalah satelit yang dilengkapi sensor remote sensing untuk mengawasi cuaca dan iklim bumi. Satelit melakukan pengukuran secara tidak langsung melalui radiasi gelombang elektromagnetik yang ada di bawahnya. Radiasi elektromagnetik merupakan dasar dari teknologi remote sensing dalam meteorologi. Instrumen remote sensing merekam bagian-bagian dari  spektrum elektromagnetik yang diserap, diemisikan, atau disebar oleh gas dan partikel di atmosfer.

Secara umum citra satelit cuaca dapat diartikan sebagai hasil pemrotetan pada suatu permukaan dengan menggunakan suatu wahana yang ditempatkan pada suatu orbit oleh usaha manusia dimana hasil pemrotetan tersebut bertujuan untuk melakukan pengamatan cuaca.

Instrumen satelit yang mengukur energi elektromagnetik disebut radiometer. Ada dua jenis radiometer yang secara umum dibawa oleh satelit meteorologi :

1. Imager
        Memiliki dua sensor yaitu visible (mengukur radiasi cahaya tampak dari matahari yang direfleksikan oleh benda dibawahnya) dan infrared (mengukur radiasi infrared yang diemisikan / dipancarkan oleh benda dibawahnya).

1.1.  Citra Visible (Gelombang Pendek, Cahaya Tampak)
Mengamati radiasi matahari yang di refleksikan. Sebelum diterima oleh satelit, radiasi yang diterima akan dipengaruhi oleh berbagai elemen di bawah ini :


1.2.  Citra Infra merah (gelombang panjang, sinar inframerah)
Mengamati radiasi yang dikeluarkan oleh target. Dalam hal ini sinar inframerah akan menggambarkan suhu dari objek tersebut. Sebelum diterima oleh satelit, radiasi yang diterima akan dipengaruhi oleh berbagai elemen di bawah ini :


2. Sounder
        memiliki sensor sounder untuk mengukur radiasi infrared (menyediakan profil vertikal Suhu, Tekanan dan Uap air).

Karakter utama dari suatu image (citra) dalam penginderaan jauh adalah adanya rentang panjang gelombang (wavelength  band) yang dimilikinya. Radiasi yang bisa dideteksi dengan sistem penginderaan jarak jauh antara lain : radiasi cahaya matahari atau panjang gelombang dari visible dan dekat infrared sampai infrared,  panas  atau dari distribusi spasial energi panas yang dipantulkan permukaan bumi (thermal), serta refleksi gelombang mikro.

Setiap material pada permukaan bumi juga mempunyai reflektansi yang berbeda terhadap cahaya matahari. Sehingga material-material tersebut akan mempunyai resolusi yang berbeda pada setiap rentang panjang gelombang. Hal inilah yang nantinya dimanfaatkan untuk mengenali awan, aerosol, debu vulkanik, dan lain sebagainya yang nantinya akan berguna untuk analisa cuaca ke depannya.
Berdasarkan panjang gelombang yang diterima, terdapat tiga jenis satelit cuaca, yaitu citra satelit tampak (visible satellite imagery), citra satelit infra merah (infrared satellite imagery), dan citra satelit uap air (water vapour satellite imagery). Dan berdasarkan orbit edarnya dibagi menjadi satelit geostasioner dan polar. Hal-hal ini akan di jelaskan di posting lain di blog ini.

Sumber : slide mata kuliah interpretasi citra satelit dan radar cuaca pertemuan 2 oleh bapak Edi Mulsandi.

No comments:

Post a Comment